Hakikat Bahasa
Bahasa
merupakan suatu sistem lambang bunyi ujaran yang digunakan oleh manusia untuk
berinteraksi dalam kehidupan bermasyarakat. Hakikat bahasa menurut Harimurti
Kridalaksana dalam Kamus Linguistik edisi ketiga adalah sistem adalah sistem lambang
bunyi yang arbiter, yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk
bekerjasama, berinteraksi, dan mengindentifikasikan diri.
Abdul Chaer
dan Leonie Agustina menyebutkan hakikat bahasa dalam buku “Pragmatik:
Perkenalan Awal” yaitu sebuah sistem, artinya bahasa itu dibentuk oleh sejumlah
komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan.
Berdasarkan
definisi bahasa dari Kridalaksana dan dari beberapa pakar lain maka dapat
disebutkan sifat yang hakiki dari suatu bahasa itu antara lain sebagai berikut:
a. Bahasa sebagai sistem, yaitu bahasa memiliki suatu
aturan atau susunan teratur yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna dan
berfungsi.
b. Bahasa berwujud lambang, yaitu bahasa dilambangkan atau disampaikan dalam bentuk
bunyi bahasa bukan wujud yang lain yaitu berupa bunyi-bunyi yang dihasilkan
oleh alat ucap manusia.
c. Bahasa berupa bunyi, yang dimaksud disini adalah
satuan bun yi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dalam fonetik diamati
sebagai “fon” dan di dalam fonemik sebagai “fonem”.
d. Bahasa itu bermakna, yaitu menyampaikan pesan
konsep ide atau pemikiran.
e. Bahasa itu besifat unik, yaitu setiap bahasa di
dunia itu mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh bahasa
lain.
f. Bahasa itu bersifat universal, yaitu pada suatu
bahasa yang ada di dunia ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap
bahasa dan tentunya ciri-ciri itu adalah unsur bahasa yang paling umum.
g. Bahasa itu variasi, yaitu bahasa
di dunia ini beragam dan bermacam-macam.
h. Bahasa bersifat konvensional,
yaitu masyarakat mematuhi konvensi yang diterapkan didalam konsep yang
mewakilinya.
i. Bahasa bersifat variasi, yaitu
bahasa di dunia ini beragam dan bermacam-macam.
Unsur dasar
bahasa
1.
Fonem
yaitu unsur terkecil dari bunyi ucapan yang bisa
digunakan untuk membedakan arti dari satu kata. Contohnya kata ular dan ulas
memiliki arti yang berbeda karena perbedaan pada fonem /er/ dan /es/. Setiap
bahasa memiliki jumlah dan jenis fonem yang berbeda-beda. Misalnya bahasa Jepang tidak mengenal fonem /la/ sehingga
perkataan yang menggunakan fonem /la/ diganti dengan fonem /ra/.
2. Morfem
yaitu unsur terkecil dari pembentukan kata dan
disesuaikan dengan aturan suatu bahasa. Pada bahasa Indonesia morfem dapat
berbentuk imbuhan. Misalnya kata praduga memiliki dua morfem yaitu /pra/ dan
/duga/. Kata duga merupakan kata dasar penambahan morfem /pra/
menyebabkan perubahan arti pada kata duga.
3. Sintaksis
yaitu
penggabungan kata menjadi kalimat berdasarkan aturan sistematis yang
berlaku pada bahasa tertentu. Dalam bahasa Indonesia terdapat aturan SPO atau subjek-predikat-objek.
Aturan ini berbeda pada bahasa yang
berbeda, misalnya pada bahasa Belanda dan Jerman aturan pembuatan kalimat
adalah kata kerja selalu menjadi kata kedua dalam setiap kalimat. Hal ini
berbeda dengan bahasa Inggris yang memperbolehkan kata kerja
diletakan bukan pada urutan kedua dalam suatu kalimat.
4. Semantik
5. Diskurs
mengkaji
bahasa pada tahap percakapan, paragraf, bab, cerita atau literatur.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul.1994. Lingustik
Umum. Jakarta: Renika
Cipta






0 komentar:
Posting Komentar