Pengertian, Hakikat, Jenis,
Ciri-ciri, Manfaat Apresiasi Sastra Anak
1.
Hakikat Sastra Anak
Sastra anak adalah karya sastra yang secara khusus dapat
dipahami oleh anak-anak dan berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak,
yaitu anak yang berusia antara 6-13 tahun. Seperti pada jenis karya sastra
umumnya, sastra anak juga berfungsi sebagai media pendidikan dan hiburan,
membentuk kepribadian anak, serta menuntun kecerdasan emosi anak. Pendidikan
dalam sastra anak memuat amanat tentang moral, pembentukan kepribadian anak,
mengembangkan imajinasi dan kreativitas, serta memberi pengetahuan keterampilan
praktis bagi anak. Fungsi hiburan dalam sastra anak dapat membuat anak merasa
bahagia atau senang membaca, senang dan gembira mendengarkan cerita ketika dibacakan
atau dideklamasikan, dan mendapatkan kenikmatan atau kepuasan batin sehingga
menuntun kecerdasan emosinya. (Wahidin, 2009)
Sifat sastra anak adalah imajinasi semata, bukan berdasarkan
pada fakta. Unsur imajinasi ini sangat menonjol dalam sastra anak. Hakikat
sastra anak harus sesuai dengan dunia dan alam kehidupan anak-anak yang khas
milik mereka dan bukan milik orang dewasa. Sastra anak bertumpu dan bermula
pada penyajian nilai dan imbauan tertentu yang dianggap sebagai pedoman tingkah
laku dalam kehidupan. (Wahidin, 2009)
Ditinjau dari sasaran pembacanya, sastra anak dapat
dibedakan antara sastra anak untuk sasaran pembaca kelas awal, menengah, dan
kelas akhir atau kelas tinggi. Sastra anak secara umum meliputi (1) buku
bergambar, (2) cerita rakyat, baik berupa cerita binatang, dongeng, legenda,
maupun mite, (3) fiksi sejarah, (4) fiksi realistik, (5) fiksi ilmiah, (6)
cerita fantasi, dan (7) biografi. Selain berupa cerita, sastra anak juga berupa
puisi yang lebih banyak menggambarkan keindahan paduan bunyi kebahasaan,
pilihan kata dan ungkapan, sementara isinya berupa ungkapan perasaan, gagasan,
penggambaran obyek ataupun peristiwa yang sesuai dengan tingkat perkembangan
anak. (Saryono dalam Puryanto, 2008: 3)
Berdasarkan kehadiran tokoh utamanya,
sastra anak dapat dibedakan atas tiga hal, yaitu :
1.
Sastra anak
yang mengetengahkan tokoh utama benda mati.
2.
Sastra anak
yang mengetengahkan tokoh utamanya makhluk hidup selain manusia.
3.
Sastra anak
yang menghadirkan tokoh utama yang berasal dari manusia itu sendiri.
2.
Jenis sastra
anak meliputi prosa, puisi, dan drama:
1. Puisi
Puisi adalah
karya sastra yang berbentuk untaian bait demi bait yang relatif memperhatikan
irama dan rima sehingga membentuk satu kesatuan yang indah.
Untuk puisi anak, ciri – cirinya adalah menggunakan bahasa yang mudah dipahami anak, pesan
yang terkandung bersifat transparan, isinya sesuai dengan kelompok umur anak,
serta latar belakang puisi berupa lingkungan yang sesuai dengan anak.
2. Prosa
Prosa adalah hasil karya sastra yang bersifat paparan atau berbentuk
cerita. Menurut Hayim ( 1981 ), prosa untuk anak memiliki ciri – ciri :
1. Bahasa yang digunakan harus
sesuai dengan tingkat perkembangan bahasa anak.
2. Isi cerita harus sesuai dengan
tingkat umur dan perhatian anak.
3. Hendaknya jangan diberikan cerita
bertemakan politik, tetapi mengutamakan pendidikan moral dan pembentukkan
watak.
3. Drama
Drama adalah salah satu karya sastra yang digunakan sebagai medium
pengungkapan gagasan atau perasaan melalui serangkaian dialog antar pelaku dan adegan, yang tujuan utamanya untuk dipertunjukkan bukan untuk
dibacakan.
Ciri drama untuk anak SD, tidak jauh berbeda dengan ciri prosa atau cerita
untuk anak SD. Perbedaannya adalah dari segi dialog yang sederhana ( pendek –
pendek ) dan jumlah adegan yang tidak berbelit – belit.
Ciri-ciri sastra anak
Ada beberapa yang menjadi ciri khas
dari sastra anak yang dapat dibedakan dengan sastra remaja atau sastra dewasa.
Berikut adalah ciri-ciri sastra anak yang dirangkum dari Suyatno (2009),
Sarumpaet (2009), dan B. Nurgiyantoro (2005).
a)
Tokoh yang terlibat dalam cerita diperkenalkan terlebih dahulu.
Setiap
tokoh yang berperan dalam cerita atau sastra anak diperkenalkan terlebih
dahulu, sedangkan pada cerita remaja atau dewasa pengenalan tokoh dapat terjadi
ketika cerita sedang berlangsung.
b)
Dalam penceritaan selalu dibarengi
dengan gambar
Untuk
sastra anak-anak, penceritaan diperkuat dengan gambar. Tujuan dari iringan
gambar pada penceritaan adalah untuk memperkuat penceritaan sehingga anak-anak
lebih mudah memahami cerita. Selain itu kehadiran gambar adalah salah satu
sarana untuk menarik perhatian.
c)
Menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami
Bahasa
yang digunakan dalam penceritaan cenderung mudah untuk dipahami oleh anak-anak
dan tidak menggunakan bahasa yang kompleks seperti karya sastra yang ditujukan
untuk remaja atau dewasa.
d)
Desain buku bacaan yang unik untuk
menarik prhatian
Desain buku untuk anak-anak cenderung berbeda dengan buku-buku
remaja, buku anak lebih menggunakan desain yang berbeda seperti bentuk yang
menyerupai buah-buahan, atau dengan kombinasi warna yang menarik perhatian.
e) Penceritaan cenderung terkait dengan
kehidupan anak (keluarga, teman, guru, dll).
Penceritaan selalu dikaitkan dengan kehidupan anak-anak,
sehingga pesan yang ingin disampaikan tercapai. Meskipun penceritaan dalam
bentuk fabel dan cerita fantasi, namun penceritaan tetap berpusat pada
kehidupan yang dialami anak-anak.
f)
Diakhir cerita selalu menggembirakan
tokoh utama.
Penceritaan dalam sastra anak selalu berakhir dengan
kegembiraan pada tokoh utama sebagai fokus penceritaan. Tidak hanya tokoh
utama, tokoh antagonis dalam penceritaanpu selalu berakhir dengan sadar dan
berubah dengan sifat baik.
g)
Dikaitkan dengan psikologi
perkembangan anak (Operasional konkret).
Manfaat Apresiasi Sastra
Apresiasi
sastra memiliki berbagai manfaat. Moody dan Leslie S. (dalam Wardani,1981)
mengemukakan manfaat apresiasi sastra: (a) melatih keempat keterampilan
berbahasa, (b) menambah pengetahuan tentang pengalaman hidup manusia
seperti adat istiadat, agama, kebudayaan, dsb, (c) membantu mengembangkan
pribadi, (d) membantu pembentukan watak, (e) memberi kenyamanan, (f)
meluaskan dimensi kehidupan dengan pengalaman baru. Hal tersebut sejalan
dengan Huck (1987) yang mengemukakan dua manfaat apresiasi sastra, yakni:
(1)
nilai personal: memberi kesenangan, mengembangkan imajinasi, memberi
pengalaman yang dapat terhayati, mengembangkan pandangan ke arah persoalan
kemanusiaan, menyajikan pengalaman yang bersifat emosional;
(2)
Nilai pendidikan: membantu perkembangan bahasa,
meningkatkan kelancaran-kemahiran membaca, meningkatkan
keterampilan menulis, mengembangkan kepekaan terhadap sastra.






0 komentar:
Posting Komentar