Pages

Sample Text

Diberdayakan oleh Blogger.

Music

[soundcloud url="https://api.soundcloud.com/tracks/201243678" params="color=ff5500&auto_play=true&hide_related=false&show_comments=true&show_user=true&show_reposts=false" width="100%" height="166" iframe="true" /]
RSS

Pengertian Hakikat, Jenis, Ciri-ciri, Manfaat Apresiasi Sastra Anak



Pengertian, Hakikat, Jenis, Ciri-ciri, Manfaat Apresiasi Sastra Anak

1.                   Hakikat Sastra Anak
Sastra anak adalah karya sastra yang secara khusus dapat dipahami oleh anak-anak dan berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak, yaitu anak yang berusia antara 6-13 tahun. Seperti pada jenis karya sastra umumnya, sastra anak juga berfungsi sebagai media pendidikan dan hiburan, membentuk kepribadian anak, serta menuntun kecerdasan emosi anak. Pendidikan dalam sastra anak memuat amanat tentang moral, pembentukan kepribadian anak, mengembangkan imajinasi dan kreativitas, serta memberi pengetahuan keterampilan praktis bagi anak. Fungsi hiburan dalam sastra anak dapat membuat anak merasa bahagia atau senang membaca, senang dan gembira mendengarkan cerita ketika dibacakan atau dideklamasikan, dan mendapatkan kenikmatan atau kepuasan batin sehingga menuntun kecerdasan emosinya. (Wahidin, 2009)
Sifat sastra anak adalah imajinasi semata, bukan berdasarkan pada fakta. Unsur imajinasi ini sangat menonjol dalam sastra anak. Hakikat sastra anak harus sesuai dengan dunia dan alam kehidupan anak-anak yang khas milik mereka dan bukan milik orang dewasa. Sastra anak bertumpu dan bermula pada penyajian nilai dan imbauan tertentu yang dianggap sebagai pedoman tingkah laku dalam kehidupan. (Wahidin, 2009)
Ditinjau dari sasaran pembacanya, sastra anak dapat dibedakan antara sastra anak untuk sasaran pembaca kelas awal, menengah, dan kelas akhir atau kelas tinggi. Sastra anak secara umum meliputi (1) buku bergambar, (2) cerita rakyat, baik berupa cerita binatang, dongeng, legenda, maupun mite, (3) fiksi sejarah, (4) fiksi realistik, (5) fiksi ilmiah, (6) cerita fantasi, dan (7) biografi. Selain berupa cerita, sastra anak juga berupa puisi yang lebih banyak menggambarkan keindahan paduan bunyi kebahasaan, pilihan kata dan ungkapan, sementara isinya berupa ungkapan perasaan, gagasan, penggambaran obyek ataupun peristiwa yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak. (Saryono dalam Puryanto, 2008: 3)

Berdasarkan kehadiran tokoh utamanya, sastra anak dapat dibedakan atas tiga hal, yaitu :
          1.   Sastra anak yang mengetengahkan tokoh utama benda mati.
          2.   Sastra anak yang mengetengahkan tokoh utamanya makhluk hidup selain manusia.
          3.   Sastra anak yang menghadirkan tokoh utama yang berasal dari manusia itu sendiri.

2.                     Jenis sastra anak meliputi prosa, puisi, dan drama:

1. Puisi
Puisi adalah karya sastra yang berbentuk untaian bait demi bait yang relatif memperhatikan irama dan rima sehingga membentuk satu kesatuan yang indah.
Untuk puisi anak, ciri – cirinya adalah menggunakan bahasa yang mudah dipahami anak, pesan yang terkandung bersifat transparan, isinya sesuai dengan kelompok umur anak, serta latar belakang puisi berupa lingkungan yang sesuai dengan anak.
        
           2. Prosa
                      Prosa adalah hasil karya sastra yang bersifat paparan atau berbentuk cerita. Menurut Hayim ( 1981 ), prosa untuk anak memiliki ciri – ciri :
1.  Bahasa yang digunakan harus sesuai dengan tingkat perkembangan bahasa anak.
2.  Isi cerita harus sesuai dengan tingkat umur dan perhatian anak.
3.  Hendaknya jangan diberikan cerita bertemakan politik, tetapi mengutamakan pendidikan moral dan pembentukkan watak. 
  
     3. Drama
Drama adalah salah satu karya sastra yang digunakan sebagai medium pengungkapan gagasan atau perasaan melalui serangkaian dialog antar pelaku dan adegan, yang tujuan utamanya untuk dipertunjukkan bukan untuk dibacakan.
Ciri drama untuk anak SD, tidak jauh berbeda dengan ciri prosa atau cerita untuk anak SD. Perbedaannya adalah dari segi dialog yang sederhana ( pendek – pendek ) dan jumlah adegan yang tidak berbelit – belit.

     Ciri-ciri sastra anak
Ada beberapa yang menjadi ciri khas dari sastra anak yang dapat dibedakan dengan sastra remaja atau sastra dewasa. Berikut adalah ciri-ciri sastra anak yang dirangkum dari Suyatno (2009), Sarumpaet (2009), dan B. Nurgiyantoro (2005).

a) Tokoh yang terlibat  dalam cerita diperkenalkan terlebih dahulu.
Setiap tokoh yang berperan dalam cerita atau sastra anak diperkenalkan terlebih dahulu, sedangkan pada cerita remaja atau dewasa pengenalan tokoh dapat terjadi ketika cerita sedang berlangsung.

b) Dalam penceritaan selalu dibarengi dengan gambar
Untuk sastra anak-anak, penceritaan diperkuat dengan gambar. Tujuan dari iringan gambar pada penceritaan adalah untuk memperkuat penceritaan sehingga anak-anak lebih mudah memahami cerita. Selain itu kehadiran gambar adalah salah satu sarana untuk menarik perhatian.

c)  Menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami
Bahasa yang digunakan dalam penceritaan cenderung mudah untuk dipahami oleh anak-anak dan tidak menggunakan bahasa yang kompleks seperti karya sastra yang ditujukan untuk remaja atau dewasa.


d)  Desain buku bacaan yang unik untuk menarik prhatian
Desain buku untuk anak-anak cenderung berbeda dengan buku-buku remaja, buku anak lebih menggunakan desain yang berbeda seperti bentuk yang menyerupai buah-buahan, atau dengan kombinasi warna yang menarik perhatian.

e) Penceritaan cenderung terkait dengan kehidupan anak (keluarga, teman, guru, dll).
Penceritaan selalu dikaitkan dengan kehidupan anak-anak, sehingga pesan yang ingin disampaikan tercapai. Meskipun penceritaan dalam bentuk fabel dan cerita fantasi, namun penceritaan tetap berpusat pada kehidupan yang dialami anak-anak.

f)  Diakhir cerita selalu menggembirakan tokoh utama.
Penceritaan dalam sastra anak selalu berakhir dengan kegembiraan pada tokoh utama sebagai fokus penceritaan. Tidak hanya tokoh utama, tokoh antagonis dalam penceritaanpu selalu berakhir dengan sadar dan berubah dengan sifat baik.

g)  Dikaitkan dengan psikologi perkembangan anak (Operasional konkret).

 Manfaat  Apresiasi Sastra
Apresiasi sastra memiliki berbagai manfaat. Moody dan Leslie S. (dalam Wardani,1981) mengemukakan manfaat apresiasi sastra: (a) melatih keempat keterampilan berbahasa, (b) menambah pengetahuan tentang pengalaman hidup manusia seperti adat istiadat, agama, kebudayaan, dsb, (c) membantu mengembangkan pribadi, (d) membantu pembentukan watak, (e) memberi kenyamanan, (f) meluaskan dimensi kehidupan dengan pengalaman baru. Hal tersebut sejalan dengan Huck (1987) yang mengemukakan dua manfaat apresiasi sastra, yakni:
(1) nilai personal: memberi kesenangan, mengembangkan imajinasi, memberi pengalaman yang dapat terhayati, mengembangkan pandangan ke arah persoalan kemanusiaan, menyajikan pengalaman yang bersifat emosional;
(2) Nilai pendidikan: membantu perkembangan bahasa, meningkatkan kelancaran-kemahiran membaca, meningkatkan keterampilan menulis, mengembangkan kepekaan terhadap sastra.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar